Setiap tahunnya, 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS) yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran semua orang terhadap penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Tubuh manusia memiliki sel darah putih (limfosit) yang berguna sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri. Virus HIV yang masuk tubuh manusia dapat melemahkan bahkan mematikan sel darah putih dan memperbanyak diri, sehingga melemahkan sistem kekebalan tubuhnya (CD4).

Dalam kurun waktu 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV, seseorang dengan HIV positif jika tidak minum obat anti retroviral (ARV), akan mengalami kumpulan gejala infeksi opportunistik yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat tertular virus HIV, yang disebut AIDS.

 

Perjalanan Hari AIDS Sedunia

Dilansir dari Independent, Hari AIDS Sedunia kali pertama diperkenalkan media saat Pemilihan Presiden AS 1988 dan menjelang Hari Raya Natal saat itu.

Seorang pegawai humas di Badan Kesehatan Dunia (WHO) bernama James Bunn memberikan kampanye-kampanye mengenai HIV/AIDS. Bunn aktif melakukan kampanye pencegahan HIV/AIDS bersama rekannya di WHO, Thomas Netter. Keduanya kemudian mengajukan rancangan Hari AIDS Sedunia kepada bosnya, yaitu Direktur Program Global terkait AIDS di WHO, Jonathan Mann. WHO kemudian memutuskan pada 1 Desember sebagai Hari AIDS Sedunia, dimulai sejak 1988.

Mulai 1996, Hari AIDS Sedunia dikampanyekan oleh UNAIDS, sebagai organisasi dunia di bawah PBB yang fokus terhadap HIV/AIDS. Tujuannya adalah untuk memperluas cakupan sosialisasi dan kampaye pencegahan penyakit sepanjang tahun. Misi utama UNAIDS adalah untuk memperkuat dan mendukung respons yang meluas terhadap HIV dan AIDS yang termasuk mencegah transmisi HIV, menyediakan fasilitas dan dukungan untuk orang yang sudah terlanjur hidup dengan virus, mengurangi kerentanan seseorang dan komunitas terhadap HIV, serta mengurangi dampaknya. Pada 2004, Kampanye AIDS Dunia didaftarkan sebagai organisasi nirlaba independen yang berbasis di Belanda.

Tahun ini, Hari AIDS Sedunia menandai peringatan ke-30 dengan tema “Know Your Status”. Adapun, tema ini bermaksud memberikan pemahaman, apakah kita termasuk orang yang memiliki status berisiko terkena penyakit ini.

Dilansir dari worldaidsday.org, secara global, diperkirakan lebih dari 36,7 juta orang yang memiliki virus HIV. Meskipun virus hanya teridentifikasi sejak 1984, namun sudah lebih dari 35 juta orang meninggal akibat terjangkit HIV atau AIDS Data statistik ini membuat AIDS menjadi salah satu penyakit mematikan dalam sejarah. Saat ini, kemajuan ilmiah telah menghasilkan jalan mengenai pengobatan untuk HIV. Ada juga undang-undang yang mengatur untuk melindungi orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Hari AIDS Sedunia begitu penting karena mengingatkan publik dan pemerintah bahwa virus itu belum hilang. Selain itu, ini diperlukan untuk menyatukan orang-orang dalam perang melawan HIV/AIDS. Selain itu, Hari AIDS Sedunia juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan solidaritas dengan jutaan orang yang hidup dengan HIV/AIDS di seluruh dunia. Kebanyakan orang melakukan ini dengan mengenakan pita merah kesadaran HIV/AIDS pada hari itu.

Situasi HIV / AIDS di Indonesia

Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/ AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia.

Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun.

Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV /AIDS (ODHA) yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS.

 

Penularan Virus HIV

Penularan HIV berasal dari kontak cairan tubuh seperti darah dan sperma seperti hal berikut:

  1. Hubungan seks yang berisiko

Yang dimaksud berisiko di sini adalah jika salah satu pasangan terjangkit virus HIV kemudian melakukan hubungan seks tanpa menggunakan pengaman. Salah satu cara paling mudah untuk pencegahan HIV adalah dengan menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan.

  1. Penularan lewat jarum suntik

Penggunaan jarum suntik secara bergantian juga merupakan salah satu cara penularan AIDS yang paling umum. Penggunaan jarum suntik tidak hanya bisa ditemukan di rumah sakit, namun juga di kalangan pengguna narkoba, layanan akupuntur hingga jasa tato. Karena itu pastikan Anda mendapatkan jarum suntik yang baru saat akan menggunakan layanan akupuntur maupun tato.

  1. Transfusi darah

Dalam beberapa kasus, cara penularan penyakit AIDS juga bisa terjadi melalui transfusi darah. Namun saat ini semakin jarang terjadi akibat adanya uji kelayakan donor darah yang semakin ketat. Dengan adanya uji kelayakan yang ketat dapat menekan risiko penerima donor darah memiliki risiko HIV.

  1. Penularan HIV melalui ASI

Ibu yang mengidap HIV/AIDS dapat menularkan virus HIV pada anak yang disusuinya. Namun hal ini dapat dicegah dengan mewaspadai sejak awal kehamilan untuk menekan risiko penularan HIV pada bayi.

Hingga saat ini belum ditemukan obat-obatan sebagai pencegahan HIV dan menyembuhkan infeksi HIV/AIDS. Obat yang tersedia saat ini adalah untuk menekan aktivitas virus dalam tubuh dan mengendalikan laju infeksi tersebut sehingga penderita HIV memiliki harapan hidup lebih panjang.

 

 

Faktor Risiko Tertular HIV

Ketika HIV/AIDS pertama kali muncul di Amerika Serikat, ini cenderung memengaruhi laki-laki yang berhubungan seks sesama jenis atau homoseksual. Namun, sekarang jelas bahwa HIV juga menyebar melalui hubungan seks heteroseksual.

Siapa pun dari segala usia, ras, jenis kelamin, atau orientasi seksual dapat terinfeksi. Namun, Anda berisiko terbesar terkena HIV / AIDS jika:

  1. Melakukan hubungan seks tanpa kondom

Gunakan kondom lateks atau polyurethane baru setiap kali melakukan hubungan seks. Seks anal lebih berisiko daripada seks vaginal. Risiko HIV meningkat jika sering berganti pasangan seksual.

  1. Pengidap penyakit menular seksual

Banyak penyakit menular seksual (PMS) menghasilkan luka terbuka pada alat kelamin. Luka-luka ini bertindak sebagai pintu masuk penularan HIV untuk memasuki tubuh.

  1. Mengunakan obat intravena

Orang yang menggunakan obat intravena sering berbagi jarum dan alat suntik. Ini menularkan HIV pada tetesan darah orang lain.

  1. Seorang pria yang tidak disunat 

Studi menunjukkan bahwa pria yang tidak disunat meningkatkan risiko penularan HIV heteroseksual.

 

 

Cara Mencegah Penularan HIV

Cara mencegah penularan HIV/AIDS yang paling aman adalah dengan melakukan serangkaian upaya dan cara pencegahan HIV, di antaranya:

  1. Menggunakan kondom

Cara pencegahan HIV sebaiknya menggunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seks baik secara vaginal, anal, maupun oral, apalagi jika Anda tidak mengetahui apakah pasangan Anda mengidap virus HIV atau tidak.

  1. Hindari penggunaan jarum suntik bekas

Setiap Anda akan menggunakan jarum suntik baik itu di rumah sakit, tempat terapi akupuntur, maupun jasa gambar tato atau tindik, pastikan Anda selalu mendapatkan jarum suntik baru yang masih tersegel rapi, ini merupakan cara pencegahan HIV. Segera tolak jika Anda mendapatkan jarum bekas karena berisiko penularan HIV.

  1. Hindari obat-obatan terlarang

Penggunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik secara bergantian juga dapat menyebabkan penularan HIV. Selain itu obat-obatan terlarang juga membuat Anda sulit berpikir jernih sehingga Anda cenderung mengambil keputusan yang buruk. Jadi, cara pencegahan HIV dengan menghindari obat-obatan terlarang dan jarum suntik bekas.

 

  1. Jika posisif HIV saat hamil, dapatkan perawatan

Jika Anda hamil, cara pencegahan HIV dengan segera mendapatkan perawatan medis. Karena ibu hamil positif HIV dapat menularkan infeksi pada bayi dalam kandungan atau saat menyusui. Tetapi jika menerima perawatan selama kehamilan, Anda dapat mengurangi risiko bayi tertular HIV secara signifikan.

  1. Sunat pada pria 

Cara pencegahan HIV berikutnya pertimbangkan sunat pada laki-laki. Ada bukti bahwa sunat laki-laki dapat membantu mengurangi risiko seorang pria terkena infeksi HIV.

 

Upaya pencegahan dan pengendalian HIV -AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, yaitu: 1) Tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, 2) Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan 3) Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Menurut UNAIDS, mengetahui status HIV merupakan titik awal untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Misalnya saja segera mendapat pengobatan, melakukan pencegahan bagi kelompok beresiko, mendapatkan perawatan dan dukungan.

Apa itu tes HIV?

Cara awal untuk mengetahui status kita adalah dengan melakukan pemeriksaan HIV. Seperti yang ditulis Kompas.com, tes HIV bisa dilakukan di sejumlah rumah sakit atau pun Puskesmas.  Menurut Program Manager KIOS Universitas Atma Jaya Jakarta, Husen, tes HIV memiliki tiga tahapan: pra-tes, tes HIV (pengambilan contoh darah), dan pasca-tes.

Pada tahap yang pertama ini seseorang akan dibekali pengetahuan tentang apa itu HIV/AIDS, termasuk bagaimana harus bersikap setelah mengetahui hasil tes HIV.  Setelah melewati tahap pertama, selanjutnya orang yang dites akan diambil contoh darahnya untuk dicek.  Tahap terakhir adalah pemberian hasil tes tersebut.  Tes HIV sendiri memiliki beberapa jenis. Pertama adalah tes standar berupa rapid tes, Elisa atau EIA. Bila hasiL tes ini positif, maka Anda terinfeksi HIV dan perlu dikonfirmasi dengan tes Western Blot.  Jenis tes HIV tersebut memiliki akurasi sampai 99,5 persen dan hasilnya bisa selesai dalam satu hari.

HIV ada obatnya, yaitu antiretroviral (ARV) . Obat ARV mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah sehingga kekebalan tubuhnya (CD4) tetap terjaga. Sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, kolesterol, atau DM, obat ARV harus diminum secara teratur, tepat waktu dan seumur hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA serta dapat mencegah penularan.

ARV dijamin ketersediaannya oleh pemerintah dan gratis pemanfaatannya. Pelayanan ARV sudah dapat diakses di RS dan Puskesmas di 34 provinsi, 227kab/kota. Dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat sangat dibutuhkan agar ODHA tetap semangat dan jangan sampai putus obat.

 

 

Sumber:

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/12/01/113437720/kenapa-hari-aids-sedunia-begitu-penting-untuk-dikampanyekan

  Kembali ke halaman berita utama