Oktober diperingati sebagai Bulan Peduli Kanker Payudara Internasional (Breast Cancer Awareness Month). Peringatan dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas kesehatan, khususnya pencegahan kanker payudara secara dini.

Di dunia, kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan persentase kasus baru (dengan standarisasi umur) tertinggi yaitu sebesar 40.3%. Sementara persentasi kematian (dengan standarisasi umur) akibat kanker payudara sebessar 16.6%. (GLOBOCAN, IARC, 2012)

Kanker payudara tercatat sebagai salah satu penyebab terbesar kematian pada wanita. Tapi, risiko kanker payudara tak hanya mengintai wanita saja. Kanker payudara juga bisa diidap oleh pria. Meski tumbuh dan berkembang di jaringan payudara, sel kanker ini bisa menyebar ke bagian lain tubuh dan meningkatkan risiko kematian. Baiknya, kenali tanda awal kanker payudara stadium 1 sebelum terlambat.

Fakta di Indonesia

Penyintas kanker payudara merupakan salah satu prevalensi tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 0.5%. Provinsi dengan prevalensi kanker payudara tertinggi adalah DI Yogyakarta (2.4%) (RISKESDAS 2013). Di Indonesia kasus kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap maupuan rawat jalan di seluruh rumah sakit dengan jumlah pasien sebanyak 12.014 orang (28.7%) menurut SIRS 2010. Kasus baru kanker payudara menjadi kasus kematian tertinggi di Indonesia dengan angka kematian 21.5 per 100 ribu.

Sebagian besar penyintas kanker payudara di Indonesia tidak menyadari bahwa dirinya mengidap kanker payudara dan diagnosis baru dilakukan setelah kanker mencapai stadium lanjut. Sebenarnya, peluang kesembuhan penderita kanker bisa mencapai 98% bila terdeteksi dini dan ditangani dengan baik secara medis.

Apa itu Kanker Payudara?

Kanker payudara terjadi karena adanya pertumbuhan sel abnormal pada jaringan payudara. Dalam kondisi normal, sel-sel tubuh hanya akan terbentuk jika dibutuhkan, yaitu jika ada sel rusak yang harus digantikan. Berbeda dengan sel normal, pertumbuhan dan perkembangan sel kanker tidak terkendali. Tidak heran jika beberapa jenis kanker menyebabkan terjadinya benjolan pada bagian tubuh yang terkena kanker.

Kanker bisa merupakan bawaan genetik, artinya jika terdapat salah satu anggota keluarga yang memiliki riwayat kanker, maka peluang bagi anggota keluarga lain untuk terkena kanker juga lebih besar. Selain itu, kanker juga dapat dipicu oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dalam tubuh, selain faktor lingkungan dan gaya hidup.

Gejala Kanker Payudara

Gejala yang paling mudah diamati dari penyakit ini adalah benjolan atau penebalan pada jaringan kulit payudara, biasanya di daerah dekat ketiak atau daerah sekitarnya. Benjolan tersebut tidak selalu sakit bila ditekan. Beberapa penyintas kanker juga mengalami nyeri pada tulang belakang dan sesak napas. Selain itu, penderita kanker sering merasa mudah lelah dan kondisi badan tidak fit.

Deteksi Dini dengan SADARI

Kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah. Akan tetapi, jika dapat terdeteksi pada stadium awal, kanker dapat segera diobati sebelum terjadi penyebaran ke bagian tubuh lain. Cara mudah untuk deteksi awal kanker payudara adalah dengan melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Waktu terbaik untuk melakukan SADARI adalah beberapa hari setelah menstruasi berakhir.

SADARI dapat dilakukan dengan melihat bentuk dan warna payudara di depan cermin. Perhatikan jika ada perubahan yang terjadi payudara. Angkat satu tangan ke atas, kemudian rabalah payudara yang sejajar dengan tangan yang diangkat tersebut. Rabalah payudara berlawanan arah jarum jam. Setelah satu lingkaran, geser jari dan mulailah kembali hingga seluruh permukaan payudara teraba. Untuk memudahkannya kamu dapat menggunakan sabun. Pastikan semua permukaan payudara telah teraba dengan seksama. Jika saat melakukan SADARI terdapat perubahan pada payudara, sebaiknya memeriksakan kondisi tersebut dengan metode mammografi.

Faktor Risiko

Melansir dari laman prevention.com, sejauh ini kanker payudara belum diketahui penyebab pastinya. Faktor genetik, pola hidup yang tidak sehat dan stres dipercaya bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Agar bisa terhindar dari risiko kanker payudara, cara paling mudah yang bisa dilakukan akan menerapkan pola hidup sehat.

Berikut beberapa faktor risiko dari kanker payudara, dirangkum dari berbagai sumber:

  • Usia haid pertama di bawah 12 tahun
  • Wanita tidak pernah menikah
  • Wanita menikah tidak memiliki anak
  • Melahirkan anak pertama pada usia 30
  • Tidak menyusui
  • Menggunakan kontrasepsi hormonal atau mendapatkan terapi hormonal dalam waktu yang cukup lama.
  • Usia menopause lebih dari 55 tahun.
  • Pernah operasi tumor jinak payudara
  • Riwayat kanker dalam keluarga
  • Wanita yang mengalami stres berat
  • Konsumsi lemak dan alkohol berlebihan
  • Perokok aktif dan pasif.

Pencegahan Kanker Payudara

Untuk mencegah risiko kanker payudara, usahakan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin minimal setiap 6 bulan sekali. Tidak merasa tidak nyaman dengan payudara kamu, segera konsultasikan hal ini dengan dokter ahlinya.

Usahakan untuk senantiasa menerapkan pola hidup sehat demi terhindar dari risiko kanker payudara. Miliki istirahat dan olahraga cukup setiap hari. Perbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan seperti sayur dan buah demi menangkal tumbuhnya sel kanker di tubuh.

Di mana Tempat Deteksi Dini dan Pengobatan Kanker

Deteksi dini IVA dan SADANIS dapat dilakukan di Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang mempunyai petugas kesehatan yang terlatih dan berkompeten serta memiliki sarana dan prasarana seperti Bidan Desa, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumas Sakit dan Rumah Bersalin.

  Kembali ke halaman berita utama